- Can It Be Love? [two shot FF/1] -

cicy mkasi ya udah ijin lagi...
hehe...


Author : Chikyu 'Aoi' Younghyun


Genre: Romance
Page: 2
Main Cast: Cho Kyuhyun and Kim Younghyun
Another Cast: Lee Donghae, Lee Hyorin, Lee Hyukjae *Lee semua :D
--------------------------
-------------
Seketika Kyuhyun tersadar dari kekosongan pikirannya saat mendengar pintu ruang kerjanya terbuka. Ia berbalik, tidak lagi menghadap jendela, kemudian duduk di kursinya bersamaan dengan wanita yang memasuki ruangannya ini. Seorang wanita--mengenakan topi pet, kacamata hitam besar, skinny jeans, dan t-shirt lengkap dengan blazer hitam serta rajutan benang wol yang melilit lehernya--dengan gelagat was-was tadi kemudian mengambil posisi duduk di kursi di hadapan Kyuhyun.
"Hey, bukankah anda artis terkenal, Kim Younghyun?" ujar Kyu dengan nada bercanda, sesaat setelah wanita itu membuka kacamata hitamnya. Wanita itu tidak menggubris, ia melanjutkan membuka syal dan topinya.
"Cho eusanim, aku mau kopi." ujar wanita tadi santai. Nada bicaranya seolah ia sudah lama kenal dengan dokter bernama Cho Kyuhyun itu.
"Kesini hanya untuk memesan kopi? Tidak sebanding dengan pengorbananmu untuk menyamar dan perjalanan jauh kemari."
"Cho Kyuhyun-ssi !" tegas Younghyun.
"Ara- chamkamanyo, Kim Younghyun-ssi."


Sekarang mereka duduk di sofa santai, masih di ruangan kerja Kyuhyun.
"Younghyun agassi, apa kau sudah membuat janji untuk konsultasi denganku?" sela Kyuhyun saat wanita bernama Younghyun itu tengah menyesap kopi hangatnya. Setelah meletakkan cangkir kopinya, Younghyun menghela napas panjang lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
"Ya-! Cho eusanim, apa kau punya obat untuk umma-ku?"
"Ahjumma? Wae? Beliau sakit apa?"
"Penyakit langka. Aku mau obat supaya umma berhenti menanyakan soal pernikahanku, obat yang dapat menghapus memori otak umma tentang keinginannya melihatku menikah secepatnya."
Kyuhyun mendengus mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Gezz-! Masalah itu lagi. Kali ini apalagi alasanmu pada ahjumma?"
"Eobso. Aku kehabisan ide untuk berkilah."
"Lalu?"
"Aku langsung pergi dengan alasan syuting."
"Bagaimana untuk menghadapi interogasi ahjumma besoknya lagi?"
"Itulah kenapa aku kemari."
"Maksudmu obat tadi? Tidak ada. Konyol sekali kau."
"Bukan. Aku butuh pendapatmu, setidaknya ide supaya umma berhenti menerorku dengan pertanyaan itu."
"Menikahlah!"
"Kya-!" Younghyun bangkit dari posisinya tadi.
"24 tahun, memasuki 25 tahun, umur yang sudah matang bagi seorang wanita untuk menikah. Kalau aku jadi ibumu, aku pasti juga akan uring-uringan kalau anak gadisku belum juga mau menikah di usianya yang sudah seharusnya ini." potong Kyuhyun sambil tersenyum kecut. Younghyun benci senyuman itu, seperti mencela.
"Berikan alasanmu kenapa aku harus menikah?"
"Kau sudah punya segalanya, karir, nama baik, wajah cantik..."
"Assa-! Itu dia, aku sudah punya segalanya. Lalu kenapa harus menikah?" potong Younghyun cepat.
"Ya-! Dengarkan aku dulu, itu dia masalahmu. Kau terlalu asik bersenang-senang dengan dunia glamour-mu. Semua orang butuh pasangan hidup, seorang wanita butuh sosok suami untuk melindungi dan menyayanginya."
"Aku punya Tuhan yang melindungiku dan... semua orang menyayangiku, kau termasuk."
Kyuhyun kali ini menarik napas dalam-dalam, menghimpun kesabaran untuk melanjutkan diskusi 'panas' dengan sahabatnya yang keras kepala ini. Dua sahabat ini selalu berdebat setiap kali mereka bertemu. Tapi itulah cara mereka berbagi dan bertukar pikiran.
"Kau terlalu angkuh. Egois."
"Baiklah, aku angkuh. Lalu?" ujar Younghyun santai.
"Aku lupa menambahkan: kekanak-kanakan, kadang-kadang. Jadi begini, aku yakin semua wanita pada posisi dan usia yang sama denganmu pasti akan memilih menikah untuk menyempurnakan kebahagiaan hidupnya. Kecuali kalau mereka phobia pernikahan atau kemungkinan terburuknya...tidak menyukai laki-laki." ujar Kyuhyun hati-hati. Younghyun mengernyitkan dahi, melempar tatapan tajam pada Kyuhyun.
"Ya-! Aku tidak memvonismu seperti itu." lanjut Kyuhyun sambil terbahak.
"Ya-! Aku benci kau tertawa seperti itu, Kyuhyun-ssi."
"Baiklah, dengarkan aku." ujar Kyuhyun sambil menghentikan tawanya, mencoba lebih serius. "Ingat, kau anak satu-satunya keluarga Kim, apa kau akan menghentikan keturunan di generasimu? Pasti tidak, jadi anak adalah alasan kenapa kau harus menikah. Lalu, apa kau tidak ingin memiliki pasangan yang kau gandeng saat kau menghadiri acara dengan teman-teman artismu mungkin, atau seseorang yang akan menemanimu sampai kau sudah renta?"
Bingo! Semua ucapan Kyuhyun benar, di hati kecil Younghyun ada keinginan itu. Hanya saja masih ada yang mengganjal di hatinya, membuat ia mengurung jauh niat untuk segera mewujudkan semua itu.
“Untuk menjadi seseorang yang kau gandeng saat pesta mungkin aku, sahabatmu, bisa melakukannya. Tapi yang lain tidak. Apalagi memberimu anak.” goda Kyuhyun menahan tawa.
"Ya-! Berhenti bercanda! Lalu kenapa kau belum menikah, Kyuhyun-ssi?" nada Younghyun lebih lunak kali ini, tidak angkuh lagi.
"Hmm, karena aku belum menemukan pasangan yang cocok."
"Aku juga."
"Aniya- kau menutup hatimu, Hyun-ah. Donghae, di hatimu masih pada pria itu kan? Atau mungkin kau trauma pada laki-laki karena takut disakiti seperti yang pernah Donghae lakukan padamu?"
Hening. Lidah Younghyun tercekat, tidak ada kekuatan lagi untuk menjawab ucapan Kyuhyun yang sepenuhnya benar.
"Hey, agassi !" panggil Kyuhyun membuyarkan lamunan Younghyun.
"Ne?"
"Kenapa kau diam?"
"Aniya~ Tapi Kyuhyun-ssi, kenapa harus sekarang? Bukankah masih banyak waktu untuk menikah?"
"Omo~ apa usiamu akan terus 24 tahun? Saat kulitmu mulai berkerut, kau pikir masih banyak pria yang menyukaimu? Rasio antara laki-laki dan perempuan adalah 1:2. Jika kau terus membiarkan hidupmu berlangsung begitu saja dan masih tidak menentukan pilihan, maka kau akan termasuk kedalam kelompok wanita tidak terpilih yang menghabiskan waktu sebagai perawaan tua, hidup sendirian itu menyedihkan. Sudahlah, ada banyak alasan yang bisa kuberikan padamu, berhentilah bertanya." Kyuhyun berhenti sejenak setelah penjelasan panjangnya. Dan Kyuhyun melanjutkan. "Hyun-ah, bagaimana kalau mencoba?"
"Mwo? Coba? Apa?"
-------------------00------------------
Younghyun menghempaskan tubuhnya di ranjang apartemennya. Otaknya masih terpikir ide gila Kyuhyun, soal eksperimen gila. Otak jenius pria itu sepertinya sudah membuatnya kehilangan cara berpikir normal, pikir Younghyun. Walau ide itu seutuhnya dapat meredam teror pertanyaan ibunya, tapi Younghyun tidak pernah berpikir untuk menjadikan pernikahan sebagai percobaan, permainan tepatnya.
'drrrt! drrrt!' nama 'Nae Umma' tertera di layar Soner milik Younghyun.
"Ye, umma?... Sekarang di apartemen... Wae?... Eobso... pukul 7 malam ini? Algetseumnida."
Younghyun melempar kembali ponselnya ke sisi ranjang yang kosong. Masalah baru datang lagi menguras energi otaknya. Telpon dari ibunya barusan membahas soal makan malam. Dan Younghyun sudah tau kalau acara malam ini akan ada unsur perjodohan.
"Bagaimana lagi aku harus menolak? Apa malam ini aku kabur lagi?" gumam Younghyun. "Tapi kasihan juga umma dan appa."
-------------------00-----------------
Younghyun sampai hotel megah di kawasan Yongsan diantar oleh Hyorin, manager-nya.
"Eonni, gomawo." ujar Younghyun pada Hyorin sebelum ia turun dari mobil. Sosok Younghyun yang berbalut benda serba mewah pun memasuki pintu utama hotel milik teman Ibu-nya ini. Ia menyeret langkah menuju tempat yang diberitahukan oleh Ibu-nya tadi sore melalui telpon. Kedatangan Younghyun disambut seorang pelayan pria yang mengantarkannya ke meja tempat makan malam diadakan. Younghyun menarik kursi di sebelah ibunya yang sudah lebih dulu datang bersama ayahnya. Ada 6 orang di meja itu termasuk dirinya. Younghyun tentu tau bersopan-santun, dengan sikap manis ia menyapa 3 orang asing dihadapannya.
“Annyeong ahjumma, ahjussi, dan ...”
“Jang Geunsuk.” potong pria ber-jas abu-abu itu menyebutkan namanya.
“Ah, ne~ annyeong Geunsuk-ssi.”
Cukup tampan tapi bukan tipe Younghyun. Pria ini terlihat sama angkuhnya dengan dirinya, apa yang terjadi kalau mereka sampai menikah? Setiap hari dipenuhi perdebatan? Menakutkan, batin Younghyun.
“Kalau begitu sekarang kita bisa memesan makanan.” usul Mr. Jang dari ujung meja.
“Ne~ semuanya pesan saja. Aku mau ke toilet sebentar.” pamit Younghyun. Mrs. Kim menyenggol lengan putrinya, kekhawatiran mulai menggerogoti hati wanita paruh baya itu.
“Kau akan membuat orang tuamu malu lagi kali ini?” bisik Mrs. Kim tajam.
“Aniya, umma-ah. Aku tidak akan lama.” Younghyun pun meninggalkan meja itu. Selang beberapa menit setelah Younghyun pergi, Mrs. Kim pun berniat menyusul putrinya itu. Tentu saja ia tidak mengatakan alasan kalau sebenarnya ia ingin memastikan kalau putrinya itu tidak kabur.


Dengan langkah tergesa-gesa Mrs. Kim memasuki pintu toilet wanita di lantai dasar hotel itu. Dan pemandangan di depannya sekarang membuat Mrs. Kim dapat menghembus napas lega. Younghyun tampak sedang merapikan lipstik-nya di depan cermin toilet, wanita dengan mini dress maroon itu tidak kabur rupanya. Mrs. Kim pun bergerak mendekat sampai Younghyun dapat melihat siluet tubuh Ibu-nya itu di cermin.
“Waeyo, umma? Apa umma pikir aku akan kabur lagi?”
“Kau selalu begitu. Tentu saja umma was-was kali ini.”
“Aku kapok membuat umma malu di depan teman-teman umma.”
“Sekarang kau baru sadar, anak nakal.”
Younghyun tersenyum geli menyadari kekhawatiran Ibu-nya yang berlebihan.
“Kkaja-! Kita kembali.” ajak Mrs. Cho.
“Aku sebentar lagi. Umma kembali duluan.”
“...” belum sempat Mrs. Kim menarik napas untuk bicara lagi, Younghyun sudah memotong.
“Aku janji tidak akan kabur. Jhinjharo, umma-ah. Percayalah. Aku masih nervous karena pria di meja tadi.” rayu Younghyun, sepertinya kali ini Mrs. Kim termakan rayuan putrinya sendiri. Mrs. Kim tersenyum tipis.
“Aigu~ sepertinya kali ini calon dari umma sesuai dengan seleramu.” ujar Mrs. Kim bangga.
“Begitulah.” respon Younghyun sambil mengangkat kedua alisnya, meyakinkan.
“Jangan lama-lama.” pesan Mrs. Kim sebelum benar-benar meninggalkan toilet itu. Younghyun hanya membalas dengan isyarat kedipan mata.


5 menit. 10 menit. Younghyun belum kembali ke meja, membuat hati Mrs. Kim kembali diselimuti kekhawatiran.
“Yeobo, kemana Hyunnie?” bisik Mr. Kim.
“Katanya tadi ia masih malu untuk berhadapan lagi dengan Geunsuk. Tunggulah sebentar lagi.”
Satu-persatu makanan di antarkan oleh pelayan. Wajah keluarga Jang terlihat mulai masam karena sudah dibuat menunggu terlalu lama oleh calon menantu mereka.
“Aku baru kali ini melihat Younghyun se-nervous ini saat bertemu dengan pria. Mungkin dia sangat menyukaimu, Geunsuk-ssi.” ujar Mrs. Cho mencairkan suasana yang canggung.
“Bukankah itu Younghyun?” tunjuk Mrs. Jang. Semua mata di meja itu mengarah pada sosok Younghyun yang berjalan ke arah mereka sambil menggandeng seorang pria. Mr. dan Mrs. Kim membelalak kaget.
“Hyun... Hyunnie.” ucap Mrs. Kim terbata.
“Mianhamnida. Membuat semuanya menunggu lama. Calon suami-ku ini baru saja pulang bertugas, jadi ia sedikit terlambat. Sekarang kita bisa makan malam.” ujar Younghyun dengan mimik santai dan menarik pria yang digandengnya untuk duduk.
“Apa-apaan ini?” tandas Mr. Jang. “Calon suami? Apa kalian sedang mempermainkan keluargaku, Kim Heenim?” tanya Mr. Jang tajam. Kim Heenim, Ayah Younghyun tidak tau harus menjawab apa pada temannya itu.
“Aku pikir acara kita selesai sampai disini.” Mr. Jang bangkit dari kursi sambil menarik istrinya. “Geunsuk, kkaja!”
Geunsuk yang sedari tadi hanya bersikap tenang melemparkan senyuman sinis pada Younghyun. Ia mendekat ke arah belakang kursi Younghyun, kemudian membungkuk seperti ingin membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
“Aku pikir aku yang akan memulai pemberontakan. Ternyata kau lebih pintar, aku tidak harus mempermalukan orang tuaku di depan kedua orang tuamu. Gomawo, Younghyun-ssi. Oh y, wanita angkuh sepertimu bukan tipe-ku.” bisik Geunsuk. Dan keluarga Jang pun meninggalkan tempat itu.
“Kim Younghyun-ssi, jelaskan semuanya pada appa dan umma di rumah.”
-------------------00------------------
Dikediaman Kim...
“Hyunnie, jelaskan pada kami.”
“Semuanya sudah jelas. Aku datang membawa calon suamiku, lalu apalagi masalahnya? Bukankah ini yang umma-appa inginkan?” respon Younghyun santai, ia menyandarkan tubuhnya di sofa kulit berwarna putih gading itu.
“Kyunnie, jelaskan pada ahjussi.”
“Ahjussi, mianhamnida. Aku baru datang menjelaskan statusku dan Younghyun sekarang. Sebenarnya kami sudah berpacaran sejak 4 tahun yang lalu.”
“Empat tahun?” tanya Mrs. Kim tidak percaya.
“Ne~ 4 tahun. Sebenarnya sejak awal aku sudah ada keinginan menikahi Younghyun, tapi mengingat Younghyun masih terikat kontrak dengan pihak manajemennya, kami memilih untuk mengurungkan niat itu. Aku memutuskan melanjutkan sekolah dokterku selama 2 tahun ini, sementara Younghyun masih menyelesaikan kontrak kerjanya.” terang Kyuhyun tenang.
“Hyunnie, kenapa kau tidak bilang? Tau begini umma tidak perlu menjodohkanmu.”
“Sekali lagi, mianhamnida ahjumma. Younghyun sengaja tidak memberitahu, karena takut para orang tua segera mengatur pernikahan. Younghyun masih memikirkan aku yang sedang menyelesaikan sekolah dokterku di luar negeri. Benarkan, chagi-ah?” ujar Kyuhyun lalu mengamit tangan Younghyun dan menggenggam jemarinya erat. Younghyun tertegun melihat akting Kyuhyun yang nyaris sempurna.
“Chagi-ah.” panggil Kyuhyun membuat Younghyun tersadar.
“Ah, ne- ne- “
“Kami bisa mengerti kalau kau masih melanjutkan kuliahmu.”
Mr. dan Mrs. Kim bersungut-sungut senang mendengar penjelasan Kyuhyun
“Lalu kapan kalian akan menikah?” lanjut Mr. Kim.
“Setelah kontrak kerja ku selesai, appa!” potong Younghyun.
“Kerja apalagi? Kau berhenti saja menjadi artis.”
“Mwo? Appa-ah, aku harus membayar ganti rugi kalau memutuskan kontrak secara sepihak.”
“Aku akan membayarnya. Menjual salah satu cabang perusahaan kita cukup untuk membayar ganti rugi pada manajemenmu. Aku tidak sabar ingin menimang cucu.”
“Tapi, appa...”
“Kyunnie, besok ahjussi dan ahjumma akan membicarakan hal ini dengan orang tuamu. Pernikahan kalian dilaksanakan dalam bulan ini.”
“Mwo? Appa...”
“Sudah. Jangan banyak protes lagi.”
“Gezz-!” Younghyun akhirnya mengalah.
“Kalau begitu aku harus pamit pulang, ahjussi.” pamit Kyuhyun sopan.
“Aku ikut. Maksudku, antarkan aku ke apartemenku.”
“Hyunnie, kenapa tidak tidur di rumah saja?”
“Umma, aku ada yang harus dibicarakan dengan Kyu.”
“Di apartemenmu? Kalian berdua saja?”
“Aniya- aniya-! Kami akan bicara di cafe, setelah itu Kyu akan mengantarku.” terang Younghyun.
“Baiklah. Ahjussi percaya padamu, Kyunnie. Jhalgha.”
-------------------00------------------
Mobil Kyuhyun terparkir di sisi jalan di tepi Hangang. Di dalamnya ia dan Younghyun sedang menikmati kopi hangat yang dibelinya dari mesin minuman.
“Kau lebih cocok menjadi aktor, Kyuhyun-ssi.”
“Aku memang pernah terpikir mengikuti sekolah artis sepertimu, Hyun-ah. Aku cukup percaya diri dengan kemampuan akting-ku, tapi aku tidak mau menghabiskan hidupku dengan sorotan kamera dan jutaan fans yang mengejar-ngejarku.” Younghyun tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun yang penuh percaya diri. Sahabatnya itu selalu berhasil membuatnya geli ingin tertawa.
“Hubungan 4 tahun dan kebohongan lainnya, sejak kapan kau menyiapkannya?”
“Entahlah. Terpikir begitu saja.”
“Gomawo atas bantuanmu hari ini.”
“Tapi, Hyun-ah. Apa kau yakin dengan kehidupan yang akan kita jalani setelah bulan ini?”
“Ide awalnya darimu, kenapa kau harus ragu sekarang?”
“Melihat kepercayaan ahjussi membuatku merasa berdosa sekali.”
“Kau masih terpikir dosa setelah mengusulkan ide konyol ini?”
“Kau yang menyetujuinya dengan menelponku memintaku datang sebagai calon suamimu.”
“Aku tidak punya jalan lain.”
“Aku juga. Apa kau pikir aku punya jalan untuk menolak permintaanmu di telpon tadi?”
“Seharusnya kau cari alasan untuk menolak.”
“Lihat siapa yang menyesal sekarang.”
Younghyun tergelak mendengar komentar terakhir Kyuhyun.
“Baiklah, bagaimanapun aku berterima kasih padamu karena menyelamatkanku dari pria bernama Geunsuk tadi.”
“Kau bisa kabur, kan?”
“Tidak. Ini terakhir kalinya aku membuat appa-umma malu dihadapan calon mertuaku.”
“Ternyata kau masih punya perasaan.”
“Kyu, lalu kapan kita akan bercerai?”
“Bahkan kita belum menikah, Hyun-ah.”
“Aku serius. Aku tidak mau merepotkanmu lebih banyak lagi. Apa kau mau mengahabiskan waktumu hanya dengan pernikahan main-main ini? Suatu saat tentu kau bertemu dengan wanita yang kau cintai.”
“Aku pria. Aku punya banyak waktu, aku menikah pada usia 30 pun itu tidak masalah. Justru kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri, Hyun-ah. Temukan laki-laki yang benar-benar kau cintai, setelah itu kita bercerai.”
“Bagaimana kalau aku tidak menemuinya?”
“Berarti kita belum harus bercerai.” jawab Kyuhyun enteng. Membuat Younghyun berdecak tidak percaya.
“Aku tidak tau harus mengatakan kau itu terlalu baik atau terlalu bodoh, Kyuhyun-ssi.”
Kyuhyun tersenyum setelah menyeruput habis kopinya tanpa melihat Younghyun.
“Sebut saja aku terlalu baik. Dan kau beruntung punya sahabat sepertiku.”
----------------------------------------
Hari itu, 6 Juni 2010, pernikahan Kyu-Young berlangsung meriah. Dilaksanakan di salah satu hotel berbintang di Seoul. Ruangan tempat diadakan pesta itu di penuhi tamu, rekan kerja, kerabat dan juga beberapa orang wartawan dengan izin resmi untuk meliput pernikahan itu, mengingat status Younghyun sebagai salah satu artis terkenal di Korea. Senyum bahagia tidak lepas dari kedua orang tua pasangan itu. Kyu-Young juga tampak bahagia menyapa tamu-tamu mereka. Pesta berakhir pukul 9 p.m, ruangan megah itu mulai kosong. Kyu-Young pun bersiap kembali ke rumah pengantin mereka, apartemen milik Kyu yang terletak tidak jauh dari hotel itu. SUV putih milik Kyu terparkir di base parkiran apartemen itu. Younghyun yang duduk di kursi di sebelah Kyu terlihat sudah tertidur.
“Ireona, Hyun-ah.” ucap Kyu sambil menepuk pelan pipi Younghyun. Younghyun membuka matanya dengan malas.
“Aku lelah sekali, Kyuhyun-ssi. Apa tidak bisa tidur disini saja?” ucap Younghyun dengan suara parau.
“Kau bisa mati kedinginan. Sudahlah, aku akan menggendongmu.” Kyu pun turun dari mobil lalu membuka pintu mobil di sisi kanan. Younghyun terlihat masih tersandar setengah sadar di kursi mobil.
“Buka sepatumu dulu.” ujar Kyu seraya menarik keluar kedua kaki Younghyun.“Geurom, naiklah.”
------------------------------------------
Younghyun terbangun dari tidurnya yang lelap, ia sangat lelah setelah seharian kemarin merayakan pesta pernikahannya. Hawa pagi yang dingin membuat ia malas untuk segera bangun, tapi gaun pernikahan yang masih ia kenakan membuat ia tidak nyaman untuk melanjutkan tidur lagi. Akhirnya Younghyun bangkit dari ranjang. Sebuah handuk dan baskom kecil ia temukan di atas meja kecil disamping ranjangnya, terlihat noda bekas lipstik dan make up di handuk itu. Kyuhyun pasti menyeka wajahnya untuk membersihkan make-up yang menempel dengan handuk itu, batinnya.
“Kyuhyun-ssi, kenapa kau selalu membuatku terharu?” gumam Younghyun.
Younghyun yang masih mengenakan gaunnya, berjalan keluar kamar. Mendekati arah dapur yang terdengar suara-suara berisik. Ternyata Kyu yang berkutat di dapur, lengkap dengan celemek dan pisau di tangannya, Kyu terlihat seperti koki handal. Younghyun berdecak kagum melihat Kyu, yang seperti sudah terbiasa, sekarang sedang mengaduk-ngaduk masakan di pancinya.
“Ya-! Apa cuma melihat saja?” ujar Kyu menyadarkan kekaguman Younghyun.
“Apa aku harus ikut membantu? Sepertinya kau lebih ahli.”
“Selanjutnya kau yang akan melakukan ini?”
“Aku? Maksudmu pagi-pagi berikutnya aku yang harus memasak? Ayolah, Kyu, kau sudah tau kan?”
“Selama 9 tahun ini apa masih belum ada peningkatan? Masih belum bisa memasak?”
Younghyun mengedikkan bahunya menanggapi kata-kata Kyu.
“Kalau begitu ini waktunya belajar. Ini pelajaran pertama, memasak untuk suami. Apa kau tau, masakan istri terasa lebih nikmat di lidah suami dibanding makanan yang dibelinya di luar.”
Younghyun terlihat masih berpikir.
“Percayalah. Aku pria, posisiku sebagai suami, aku tentu lebih mengerti.”
“Geurom.”
“Ya-! Apa kau masih mau melanjutkan pesta pernikahan dengan gaun itu? Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.”
“Kenapa kau selalu dan terlalu baik?”
“Jangan terharu dulu. Besok kau yang akan melakukan ini. Ini pelajaran ke-dua. Se...”
“Gezz-! Nanti saja pelajaranmu itu. Aku mau mandi.” potong Younghyun sebelum Kyu sempat menyelesaikan kalimatnya.
--------------------------------------
Pagi akhir pekan ini Younghyun kembali berkacak pinggang melihat Kyuhyun yang sudah sibuk dengan game-nya. Bukan pemandangan aneh lagi bagi Younghyun melihat suaminya itu menatap monitor di depannya dengan penuh konsentrasi. Tapi yang dia tidak habis pikir, kenapa pria itu selalu betah menghabiskan waktunya seharian hanya dengan duduk dan menyusun strategi bodoh itu? Bukankah akhir pekan ini bisa digunakan untuk berjalan-jalan. Younghyun butuh refreshing di tengah jadwalnya yang padat. Tepatnya ia butuh teman untuk diajak bersenang-senang. Hyorin yang biasa bersamanya, di akhir pekan ini, biasanya lebih memilih menghabiskan waktu bersama Hyukjae, kekasihnya. Sementara suaminya, Kyuhyun, tidak ada yang bisa diharapkan dari maniak game itu. Sempurna kejenuhan Younghyun di pagi minggu yang cerah ini.
-------------------00------------------
Kyuhyun langsung bangkit dari sofa-nya saat mendengar pintu dibuka.
"Dari mana saja?" Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di dinding seraya melipat tangan di depan dadanya.
"Syuting."
"Hyorin bilang jadwalmu kosong hari ini."
Tanpa menjawab, Younghyun berjalan menuju kamarnya dengan langkah sedikit sempoyongan. Kyuhyun mencium bau alkohol dari tubuh Younghyun.
"Kau minum?"
"Hmm."
"Kenapa kau tidak mengaktifkan ponselmu?"
"Aku meninggalkannya di rumah."
"Kau mengemudi saat mabuk. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Apa yang harus aku jelaskan pada ayah dan ibu-mu?"
"Aku tidak mabuk. Dan aku pulang dengan selamat. Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi."
Younghyun meraih handle pintu kamarnya dan bersiap mendorong benda berwarna coklat di depannya itu.
"Kita harus bicara." Kyuhyun menarik lengan Younghyun dan dengan keras Younghyun menepisnya.
"Apa lagi, Kyuhyun-ssi?! Aku mau istirahat." ujar Younghyun dengan suara tinggi.
"Ya-!" bentak Kyuhyun, suaranya memenuhi ruangan itu
"Aku benci kau membentakku seperti itu!"
Mereka berhadapan dan mulai berbicara saling berteriak.
"Aku tidak suka kau pulang malam, apa lagi dalam keadaan mabuk! Wanita bersuami menghabiskan waktu di club malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Orang-orang akan berpikiran negatif terhadapmu! Apa kau tidak memikirkan itu?"
"Aku hanya ingin bersenang-senang. Kau punya game dan pertandingan bola sebagai hiburanmu, sementara aku punya club malam sebagai tempat bermain. Ini sudah cukup adil, kan?" tanpa menghiraukan Kyuhyun lagi, Younghyun langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.
-------------------00------------------
"Yeoboseyo..." Kyuhyun yang masih belum tertidur di pagi buta itu menjawab panggilan di ponselnya.
"Apa kau belum tidur?" tanya orang di ujung telpon.
"Aku terbangun karena telponmu."
"Benarkah? Tapi suaramu tidak seperti orang baru bangun tidur."
"Ini terlalu pagi untuk berdebat, Hyun-ah."
"Mianhada."
"Untuk apa?"
"Pertengkaran kita tadi. Tidak seharusnya aku berteriak seperti tadi kepadamu."
"Aku mengerti orang mabuk memang sedikit labil."
"Huh. Aku hanya minum 2 gelas."
"Bahkan kau mulai kehilangan kesadaran setelah gelas pertama."
"Haha- sepertinya kau tau banyak hal tentang aku."
"Itu wajar setelah 9 tahun mengenalmu."
"Tapi aku baru tau semua kebiasaan anehmu sejak kita tinggal serumah selama 1 bulan ini."
"Apa aku boleh menyesal menganggapmu sahabat sekarang?"
Mereka terbahak bersamaan. Tidak ada lagi hawa permusuhan.
"Na do... mianhada?"
"Wae?"
"Aku membentakmu."
"Aku yang memulai. Gwaenchana."
"Seharusnya kau bilang padaku kalau ingin ditemani keluar atau jalan-jalan."
"Aku pesimis setelah melihat antusiasmu terhadap game itu."
"Aku akan memilih istriku dibanding game itu, kalau ia memintaku."
"Seharusnya kau berinisiatif."
"Aku pikir kau butuh istirahat di rumah setelah semua kegiatanmu yang padat itu."
"Anda pintar berdalih, Cho euisanim."
"Percayalah. Oh y, bagaimana kalau minggu depan?"
"Geurom."
"Sudah jam 3 pagi. Apa kau tidak tidur?"
"Tidak bisa."
"Karena memikirkan keributan tadi?"
"Sedikit. Oh y, apa ini rasanya saat suami-istri bertengkar?"
"Haha- begitulah, bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak bisa membayangkan akan bertengkar seperti ini dengan pria yang benar-benar akan menjadi suami-ku nanti."
"Sudahlah. Ayo, tidur. Kau butuh istirahat."
"Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku tertidur."
"Apa aku harus ke kamarmu, lalu tidur disampingmu dan mengelus kepalamu? Biasanya itu selalu berhasil membuatmu tertidur."
"Sirhuh. Itu membuatku bergidik. Aku takut nanti kau kerasukan setan dan berbuat aneh."
"Benar juga. Haha-"
"Paboya~!"
"Aku akan menghitung domba. Dengarkan baik-baik dan pejamkan matamu."
Younghyun tersenyum simpul sebelum menutup matanya.
"Chamkaman, sebelum memulai apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Katakanlah."
"Kau yang memilih memulai permainan ini Hyun-ah, seharusnya kau mengikuti aturan mainnya. Jadi, walaupun semua ini cuma pura-pura, aku tetap ingin kau menghargaiku sebagai suamimu. Jika kau masih juga merasa sebagai wanita lajang dan bebas, bagaimana tujuan kita bisa tercapai? Wanita bersuami itu hidupnya terbatas, dibatasi oleh aturan suaminya. Bukankah kau ingin merasakan bagaimana menjadi seorang istri?"
"Ada lagi?"
"Aku harap kau mengerti."
"Algetseumnida, yeobo-ah. Bisa kau membuatku tertidur sekarang?"
---------------------------------------TBC...


Mohon kritik dan masukannya y ^^ Moga readers suka, walau alur ceritanya cepat, datar-datar aja n dialognya lebih banyak daripada deskripsinya. Temanya rada dewasa dikit :D keke~ 'pernikahan' . Gara-gara author sering nonton film2 com-rom soal nikah2an, jd terbawa dewasa sebelum umur :D keke~ Terinspirasi dari film 'U Did What' tentang cwo yg mengidap Gamaphobia [phobia pernikahan], rencananya mau bikin Kyu yg ngdap Gamaphobia, tapi setelah author bertapa malah kepikiran konsep cerita yg laen. *Kyu: "udah ah-! Banyak bacot lu. Ga ada yg nanya juga." :P
--------------------------------------

Catatan:
-Eobso : Tidak ada
-Gwaenchana : Tidak apa-apa
-Sirhuh : Tidak mau
-Jinjharo : Benar-benar
-Chagi-ah : [panggilan] Sayang
-Mianhada : Maaf
-Mwo? : Apa?
-Wae? : Kenapa?
-Geurom : Baiklah
-Eusanim : [sebutan] Dokter
-Ireona : Bangun
-Algetseumnida : Aku mengerti
-Chamkaman : Tunggu
-Yeoboseyo : [sapaan di telpon] Halo

FF 1 (Love Like That part.1 )

 gumawo for saeng tila yangn udah ngijinin share disini..
^^
let's cekidot..

LOVE LIKE THAT (PART 1)
Key (Key Shinee)
Taemin (Taemin Shinee)
Park Minmi (Tila Shimizu Exiloutezz)
Park Ririn (Rizki Umin Exiloutezz)
So Eun(Fitri Aditia Exiloutezz)

Hai hai semua....
ini adalah ff pertamaku, mungkin di ff pertama ini masih banyak keslahan disna sini jadi mohon dimkalumi haha, aku membuat ff ini terinspirasi dari chinguku yang suka buat cerita tapi sering gak kelar dan kakak yang suka buat note, so..

Enjoy this story...,gomawo sudah meluangkan waktunya untuk membaca note ini^^ *author nunduk

(nuna,rist kita bertiga eksis di part 1 ni,haha..si puji n gita ngiri gak dapt peran,ahay... TOS!!)

....................................

Minmi berlari sekuat tenaga,dia tidak ingin mengacaukan hari pertama di sekolah barunya.
“oh! Bagaimana ini sudah jam 8 aku pasti terlambat..!!”
Minmi panik melihat jam tangannya, gerbang sekolah itu sudah tampak, tapi sayangnya seorang bapak yang sepertinya satpam sekolah itu baru saja menutup gerbang.
“tunggu ahjushi! Jangan ditutup dulu”
teriak Minmi dari kejauhan sampai akhirnya dia didepan gerbang,
“ahjushi, bolehkah aku masuk” tanya Minmi ngos-ngosan.
Si bapak hanya menggelengkan kepala dan mengibaskan tangannya mengisyaratkan kepada Minmi pulang sajalah.
“ayolah...”kata Minmi terhenti sebentar melihat papan nama ahjushi itu lalu melanjutkannya lagi “.. Jin Yi Han ahjushi,aku tidak mau mengacaukan hari pertamaku disekolah baruku ini”Minmi merengek membujuk ahjushi.
Ahjushi tampak terkejut mendengar perkataan Minmi barusan, dia mengalihkan pandangannya yang tadi melihat jalan diluar sana ke wajah Minmi.
”jadi kau anak pindahan itu??”tanya ahjushi tidak percaya.
“nde ahjushi!” Minmi menjawab dengan lantang
“Park Minmi??”
“Nde nde!!”
“dari Indonesia??”
“BINGGO!!!! Ahjushi!”Minmi menjawab pertanyaan ahjushi dengan semangad, lalu ekspresi mukanya berubah menjadi bingung
“hajiman..mengapa ahjushi tau itu semua??
“tentu saja aku tau, kau sudah ditunggu oleh Han Sen Wan sansenim diruang guru,ayo ahjushi antarkan kau kesana”ahjushi membukakan gerbang untuk Minmi
“mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi..”ahjushi menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyuruh Minmi untuk mengikutinya, belum sampai di gedung sekolah ahjushi tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“wae ahjushi?? Tanya Minmi.
“kalau aku mengantarkanmu kedalam,siapa yang akan menjaga gerbang itu??”tanya ahjushi menunjuk gerbang di belakang mereka.
“ Aa~ kinchana, ahjushi jaga gerbangnya saja, biar aku cari sansenim, kamsamitha Yihan ahjushi”Minmi membungkukan badannya.

Minmi tergopoh-gopoh masuk kedalam gedung sekolah, dia lihat kesekeliling gedung ini sangat besar dia bingung mau mencari ruang guru kemana, dia melihat seorang lelaki sedang melihat papan mading sekolah itu, tanpa berpikir panjang lagi Minmi mendatangi orang itu segera.
Minmi membungkukkan badannya
“annyeonghaseyo,saya Park Minmi murid baru disekolah ini, bisakah kau menunjukkan dimana ruang guru??” tanya Minmi.
Cowok tadi mengalihkan pandangannya ke Minmi,
“kau naiki tangga itu lalu belok kiri disanalah tempatnya,ara??”tanya cowok itu,
“Aa~ araseo,kamsamitha”Minmi membungkukan badannya lagi, melihat jam tangannya dia kembali panic dan langsung berlari menaiki tangga, cowok itu tertawa kecil melihat tingkah Minmi.>>>>>


Saat jam makan siang Minmi memilih taman belakang sekolah, dia sudah tidak sabar menyantap ayam balado buatan bundanya. Suapan pertama Minmi terhenti saat melihat seorang cowok berdiri didepanya dengan ekspresi muka tidak menyenangkan.
“yaa!!, nuguseyo?, kau tidak boleh makan disini ,disini tempat biasanya kami makn siang” Key membentak Minmi.
“key,kenapa kau teriak-teriak??” kata Ririn sambil membawa bekal makanannya dan dibelakangnya ada So Eun dan Taemin yang mengikutinya.
“aku tidak terima! Mengapa cewek ini ada disini?”kata Key masih tidak melepaskan pandangannya dari Minmi.
“aku hanya mencari tempat yang nyaman, sepertinya disini pas tempatnya,ya sudah” Minmi menjawabnya dengan santai dan tampang yang tidak bersalah. Key semakin kesal melihat Minmi tidak menunjukkan rasa bersalahnya.
“tunggu dulu” Taemin menatap wajah Minmi dengan ekspresi sedang mengingat-ingat sesuatu, “hei...”kata So Eun dengan wajah berbinar-binar.
”kau anak baru di kelas kami itu kan?? Hah anyeonghaseyo, namaku Park Ririn, mianhe tadi dikelas kita tidak sempat berkenalan” ,kata Ririn mengenalkan dirinya.
“hai,aku So Eun”, So Eun tak kalah senang memperkenalkan dirinya.
Tiba-tiba Taemin beraksi menunjukkan machine dancenya “I’m genius dance,Taemin..” Taemin mengerlingkan matanya sebelah, Ririn dan So Eun pura-pura pingsan karena tidak tahan dengan kemilau Taemin, Taemin menggeleng-gelengkan kepalanya bak seorang superstar.
“ups sampai lupa, dan ini adalah teman kami yang sangat perfectionist namanya Kimbum tapi lebih asik panggil dia..”kata Taemin, “key!!”Taemin,So Eun dan Ririn menjawab serentak.
“jadi dia ini teman sekelas kalian??”tanya key.

Key beda kelas dengan mereka berempat tapi Key sudah berteman dengan Taemin,So Eun dan Ririn sejak mereka masih SMP jadi mereka masih tetap akrab sampai sekarang.

“nde, baiklah kita makan saja lagi,perutku sudah lapar sekali, kau bawa bekal apa Minmi” Ririn tertarik dengan bekal Minmi.
“oh,ini namanya ayam balado,kau mau coba??”tanya Minmi.
“sepertinya enak” Kini So Eun duduk disebelah Minmi.
“aku mau coba” Ririn membuka mulutnya.
“aku aku juga mau Minmi” Taemin juga gak mau kalah.
Key yang merasa dirugikan dalam pemandangan ini tidak bisa tinggal diam, dia mendekati gerombolan yang sedang makan ayam balado itu.
“yaa!!” teriakan Key membuat orang-orang itu menghentikan aktivitasnya, semua mata tertuju kepada key.
“kalian mana boleh begini masak Minmi makan bersama kita?? Inikan tempat faforitnya kita” Key melanjutkan protesnya.
“sudahlah Key, kau makan saja lagi bekalmu, emang apa salahnya sih??” tanya So Eun.
“Nde Key, lagian bekal Minmi sangat enak, kau mau coba??” tanya Taaemin smabil menyodorkan sepotong ayam kepada Key.
“Sirheo!!, kau makan saja sendiri,aku juga bawak bekal sendiri” Key duduk di kursi panjang yang satu lagi dan melahap bekalnya dengan ganas.
“ya sudh” Taemin kembali sibuk dengan Ayam baladonya Minmi, dia tidak mempedulikan key begitu juga dengan rekannya Ririn dan So Eun.
Minmi tertawa melihat keempat teman barunya ini,semoga ini adalah awal yang baik disekolah barunya ini.>>>>>


Kamsamitha....^^
Keep RCL ya (Read, Comment,Like),
anda bebas mengomentari apa saja disini,yang jelek-jelek pun gak papa,karena aku orangnya tahn banting,haha..*asal jangan dibanting beneran

- A Short Journey [3shoots FF/end] -

ni ending bikin saiia mewek- mewek...

Cici huhuhu~

gumawo udah boleh copas..


Let's cekidot aja chingu..

 

Genre: Sad Romance
Page: 3 shoots
Main Cast
Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun
Author as Park Younghyun
Park Jungsoo as Leeteuk
Kim Eunsoo


--------------------------
----------
Kyuhyun-ssi... sarang han dago! Kyuhyun-ssi, sarang man haja. Sarangeun modeun geosul chiyuhanayo. Kau tidak akan mati.......
------------------------------------
Chapter 3: 'Miracle' ? [ending]

"Jang!Jang! Aku bawa sesuatu untukmu." Younghyun menunjukkan kotak bekal yang ia bawa pada Kyuhyun.
"Mwoya?" tanya Kyu yang masih duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Makanan sehat!" seru Younghyun, Kyu menyipitkan mata.
"Ah~ jangan bilang sayur lagi. Setiap hari aku makan makanan yang tidak ada rasanya, ini membosankan, chagii. Ditambah lagi sayur itu..."
"Wae? Kau tidak suka aku bawakan makanan? Sebelumnya kau selalu minta aku masakkan sesuatu, sekarang malah menolak makanan dariku.Huhh!" Younghyun pura-pura marah.
"Aniya~ bukannya aku tidak suka kau masakkan makanan, tapi aku...ah~ sudahlah. Bawa kesini, aku lapar."
Younghyun tersenyum penuh kemenangan. Ia pun menyiapkan makanan itu untuk Kyuhyun.
"Sepertinya menu hari ini kurang lengkap." ujar Kyu sambil melahap makanan buatan yeoja-nya itu.
"Mwo? Kau mau apa lagi, Kyuhyun oppa?"
"Hmmfftt!" Kyu menahan tawa dengan mulut yang masih penuh makanan mendengar panggilan dari Younghyun untuknya barusan, oppa.
"Kenapa tertawa oppa-ah?" Younghyun bersikap sok manis, menggoda Kyuhyun.
"Ya~! Kau salah minum obat? Tiba-tiba memanggilku seperti itu."
"Ani~ bukankah ini romantis? Benarkan oppa?" Younghyun menaik-naikkan alisnya, lucu. Kyuhyun akhirnya menoyor kepala Younghyun. "Ya~! Oppa! Kau kasar!"
"Haha~ berhenti bersikap sok manis seperti itu, kau membuatku merinding. Oh y, kenapa tidak ada sup rumput laut?"
"Sup rumput laut?" tanya Younghyun kebingungan, ia berpikir sejenak. "Kya~ kau ulang tahun? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Ani~ bukan aku, tapi kau, chagii-ah." ungkap Kyu. Younghyun kembali berpikir, mengingat tanggal lahirnya.
"Hey~ kau pasti salah ingat. Ulang tahunku itu lusa. Bukan hari ini."
"Tapi aku sudah menyiapkan hadiah untukmu, chamkkamanyo." Kyuhyun meraih laci meja disamping tempat tidurnya, ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru yang sudah diberi pita berwarna putih. Sepertinya Younghyun pernah melihat hadiah itu sebelumnya, ya, itu yang ada dilaci meja di kamar Kyu.
"Aku sudah lama menyiapkan ini. Untukmu... :) " Kyu tersenyum menyerahkan kotak itu pada Younghyun.
"Ini tidak surprise lagi, ulang tahunku masih dua hari lagi." Younghyun mengambil hadiah dari Kyu itu, walaupun tidak diberikan tepat pada hari ulang tahunnya, tapi ia sangat terharu mengetahui Kyuhyun sudah lama menyiapkan kado ini untuknya.
"Rencananya dulu akan ku titipkan pada Teukie hyung saja, seandainya kau tidak tau semua ini." Kyuhyun menatap mata Younghyun dalam. "Aku bukannya lupa, chagi-ah, tapi sengaja. Menunggu dua hari lagi rasanya begitu lama, aku takut tidak ada besok dalam hidupku :) " Younghyun tertegun, Kyu tau Younghyun sekarang sudah ingin menangis, terlihat dari mata wanita itu yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan saatnya menangis, chagi-ah. Aku masih punya satu hadiah lagi untukmu." Kyu kali ini mengambil ponselnya, ia seperti mencari salah satu file di dalam ponselnya itu. "Coba dengar... aku merekamnya tadi malam." wajah Kyu terlihat senang sekali menunjukkan yang satu ini. Kyu lalu membesarkan volume suara ponselnya.
haessari ttaseulhage naerideon geu nal [sinar mentari memancarkan kehangatan, menyinari hari itu]
ontong pureunbicheun deohaegago yeorin haneurarae areumdaungeudae [seluruh cahaya biru dan yang di bawah langit yang lembut menambah keindahanmu]
sesangui bitgwa mannatjyo [aku telah menemuimu di dunia yang penuh cahaya ini]
eonjena chukbogi gyeote isseojugil byeonhameomneun moseubeuro [kapanpun akan kuberikan doa restu di sisimu dan tidak akan pernah berubah]
yeongwonhi sarangi geudael gamssajugil saengil chukhahaeyo geudae [aku akan melindungimu dengan cinta yang abadi, selamat ulang tahun untukmu...]
kkumcheoreom seuchyeoganeun geudaeui miso [serasa mimpi, senyummu menghampiriku]
jichin naui mameul yeoreogago [membukakan hatiku yang lelah]
baraman boado kkumimeomneun maeum neul hamkke hago sipeoyo [nampak sederhana saja, hatiku ingin selalu bersamamu]
yeongwonhi sarangi geudael gamssajugil saengil chukhahaeyo geudae [aku akan melindungi dengan cinta yang abadi, selamat ulang tahun untukmu]
Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday my dear. Saengil Chukhae :)

Mendengarkan rekaman suara Kyuhyun yang merdu menyanyikan lagu ulang tahun untuknya, membuat Younghyun tidak bisa menahan air mata harunya lagi. Entah mengapa mendengar lantunan lagu yang bertempo lambat itu membuatnya sedih. Younghyun spontan memeluk Kyuhyun. Sebenarnya ada perasaan sedih yang lebih besar lagi di hati Kyu, sedih tidak punya kesempatan menyanyikan lagu itu di tahun yang akan datang. Tapi ia tidak akan pernah menangis di depan Younghyun, orang yang sangat dicintainya itu.
"Kita rayakan dimana, chagi-ah?" tanya Kyu disela sambil memeluk Younghyun yang sudah menangis sesegukan.
------------------------------------------
2 hari kemudian...
"Saengil chukhae!!!" seru Kyuhyun.
Hari ini Younghyun merayakan ulang tahunnya bersama Kyuhyun di rumah sakit, sebelumnya ia sudah mendapatkan kejutan ulang tahun dari Teukie tadi malam.
"Buat permohonan dulu, chagi-ah." ujar Kyu sebelum Younghyun ingin meniup lilin kue ulang tahunnya.
"Kita buat permohonan bersama-sama, otte?"
"Ok."
Keduanya hening menutup mata untuk beberapa saat, mengucapkan permohonan di dalam hati masing-masing. Kemudian mereka bersama-sama meniup lilin-lilin itu.
"Apa aku boleh tau apa permohonan Kyuhyun-ssi?"
"Permohonan tidak akan terkabul kalau diberitahu ke orang lain, kau tau kan?"
"Itu mitos, chebal, aku ingin tau."
Itu lah sifat Younghyun, selalu penasaran dan ingin tau.
"Geureom..." Kyuhyun mengamit dan menggenggam jemari Younghyun, sambil menatap Younghyun lekat dan penuh rasa sayang. "Aku berharap semoga Younghyun-ku selalu hidup sehat dan bahagia, mendapatkan apa yang ia ingin. Dan... aku berharap di saat kehidupan bermula kembali, kau dan aku akan bertemu lagi, dimana kau tetap Younghyun yang sekarang ini, dan aku...aku bukanlah orang yang sedang sakit. Dan ada lagi, tapi sepertinya yang ini sulit untuk dikabulkan Tuhan :D "
"Mwoya?"
"Aku ingin menikahimu, bagaimana menurutmu? Mustahil kan? Kau dan aku sama-sama sudah mendengar dari Eunsoo noona, jantungku semakin lemah. Walaupun melakukan operasi, aku hanya bisa bertahan sebentar, itupun kalau berhasil. Kau mau menjadi janda saat kita belum genap sebulan menikah? hahaha~" ujar Kyu dengan nada bercanda.
"Tidak ada yang tau rencana Tuhan, Kyuhyun-ssi. Kenapa kau begitu pesimis?"
"....."
"Kyuhyun-ssi, nawa gyorhonhejulle?"
Kyuhyun terbelalak mendengar pernyataan Younghyun, lalu tawanya pecah.
"Bwhahaha~ Ya~! Kau benar-benar sangat ajaib. Kau sedang melamarku?"
--------------------------------------------
Leeteuk masih tidak habis pikir mendengar permintaan Younghyun padanya pagi ini, adiknya itu meminta restu untuk menikah dengan Kyuhyun.
"Hyun-ah, kau jangan bercanda. Menikah itu bukan main-main."
"Aku tidak main-main oppa. Apa aku salah ingin menikah dengan orang yang aku cintai?"
"Masalahnya kau tau sendiri, Kyuhyun sekarat."
"Kya~! Berhenti bicara seolah-olah Kyuhyun itu akan mati! Semua dokter di rumah sakit itu bukan Tuhan, mereka tidak berhak memvonis hidup seseorang!" teriak Younghyun penuh emosi.
"Hyun-ah, berpikir jernihlah. Kau ingin menikahi Kyuhyun hanya karena ingin mengabulkan permohonannya."
"Aniya~ oppa. Aniya~ bukan karena itu, tapi karena aku dan Kyuhyun-ssi benar-benar saling mencintai. Chebal... mengertilah..." ujar Younghyun lirih.
--------------------------------------------
Februari 2010, Younghyun dan Kyuhyun kembali ke Korea setelah melaksanakan pesta pernikahan yang hanya di hadiri keluarga dan sahabat dekat. Sebuah pesta pernikahan sederhana yang dilaksanakan di sebuah gereja kecil di Kepulauan Ellis, Amerika. Tapi bagi Kyu-Young pernikahan itu benar-benar indah.

Proposal Younghyun untuk melakukan penelitian tugas akhirnya di Korea disetujui pihak kampusnya, dan Kyuhyun juga memutuskan melanjutkan therapy pengobatannya di Korea, padahal sebenarnya pengobatan di Amerika jauh lebih canggih.

4 p.m waktu Seoul, Kyu-Young sampai di Incheon Airport bersama kedua orang tua Kyuhyun dan Ah Ra, kakak perempuan Kyuhyun. Sementara oppa Younghyun, Leeteuk yang masih terikat kontrak kerja harus menetap di Amerika.
"Umma,Appa, aku dan Younghyun sepertinya langsung pulang ke apartemen." ujar Kyuhyun pada orang tuanya.
"Oppa, apa tidak sebaiknya ke rumah mertua dulu?" kata Younghyun.
"sst! Besok kita juga bisa mengunjungi appa-umma, chagi-ah." bisik Kyuhyun.
"Gezz~ sepertinya ada yang sudah tidak sabar." celetuk Ah Ra, membuat Kyuhyun malu.
"Geureom. Kau jaga istrimu baik-baik saja. Besok datanglah kerumah." pesan Mr. Cho. "Hyunnie, abeonim dan omonim pulang duluan." ujar Mr. Cho pada Younghyun.
"Ne~ abeonim, eomonim. Jhalgha."
"Younghyun-ah, fighting!" seru Ah Ra sebelum memasuki mobil, Younghyun hanya tersenyum simpul menanggapinya.
----------------------------------------
Kyu-Young memasuki tempat tinggal baru mereka. Sebuah apartemen di lantai 15 terletak di kawasan Yeouido.
"Ayo masuk." ajak Kyu setelah menekan beberapa tombol panel di depan pintu apartemennya. Pandangan Younghyun lekat menyusuri tiap sudut ruangan dengan konsep minimalis itu.
"Ottoke? Kau suka?" tanya Kyu yang sedang mengangkat barang-barang mereka.
"Ne~ :) Dapurnya luas. Jhoahe."
"Itu studio musikku, aku bisa bekerja disana sambil melihatmu memasak untukku." ujar Kyu menunjukkan ruangan studio dengan dinding kaca yang berhadapan langsung dengan dapur. "Sebelumnya tidak disana, tapi aku meminta appa merenovasinya sebagai kado pernikahan kita."
"Jhoahe. Gomawo, oppa-ah. Oppa, kau ingin mandi? Aku siapkan air hangat untukmu."
"Ne~ kamar mandinya di sana." tunjuk Kyu.
-----------------------------------------
Kyuhyun menghampiri istrinya yang sedang mengeringkan rambut, duduk di sisi tempat tidur mereka.
"Apa kau tidak lelah, chagi-ah?"
Younghyun terkesiap saat merasakan jari kekar Kyuhyun memijit pundaknya pelan, ia pun membalikkan tubuhnya. Kini mereka berhadapan.
"Aniya~ oppa. Kau lelah?"
"Sedikit. Apa rencanamu untuk malam pertama kita?" tanya Kyu sambil menepikan rambut Younghyun yang masih lembab terjuntai di dahinya. Younghyun tersipu mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Molla~ aku pikir kau sudah punya rencana sendiri, oppa-ah." Younghyun tersenyum jahil.
"Chagi-ah." panggil Kyu lagi, kini ujung jari laki-laki itu tengah bergerak mengikuti garis wajah Younghyun yang oval sambil menatapnya dalam2.
"Ye~?" jawab Younghyun, matanya membalas tatapan Kyuhyun yang hangat padanya.
"Gomawo."
"Untuk apa?"
"Semuanya." jawab Kyu singkat, dilanjutkan dengan sebuah kecupan di dahi Younghyun, beberapa detik lalu bibir Kyu yang terasa dingin mulai turun mengecup hidung Younghyun dan akhirnya bibir mereka berpagutan. Mereka saling mencumbu dengan kecupan-kecupan lembut, pasangan itu larut dalam cinta mereka.
----------------------------------------------
Younghyun baru terjaga dari tidurnya yang lelap, ia merasa letih setelah puas semalaman 'bermain' dengan Kyuhyun. Younghyun merasakan hawa pagi yang dingin menusuk kulitnya yang tidak tertutup benang sehelaipun. Younghyun menarik selimut menutupi bagian tubuhnya hingga dada. Di lihatnya Kyuhyun masih tertidur dengan sangat lelap, Younghyun pun beringsut menyamakan posisi kepala mereka hingga saling berhadapan. Cukup lama Younghyun memperhatikan wajah Kyuhyun yang polos saat tertidur, seperti bayi. Tiba-tiba saja bibir Kyuhyun membentuk senyuman sementara matanya masih tertutup.
"Apa aku begitu tampan?" tanya Kyu dengan sebelah matanya yang terbuka mengintip. Ternyata laki-laki itu sudah bangun daritadi.
"Nde~ suamiku sangat tampan. Aku belum pernah melihat wajahmu sedekat ini sebelumnya. Sekarang aku baru benar-benar jelas melihatnya, dagu suamiku yang lancip, garis bibir suamiku yang lucu, hidung suamiku yang mancung, mata suamiku dengan satu garis lipatan, bola matanya yang hitam dan alisnya yang tebal. Dan saat tersenyum pipi ini akan memadat terlihat sangat menggemaskan." ujar Younghyun sambil menyentuh setiap bagian wajah Kyu yang disebutkannya. Kyuhyun tersenyum.
"Aku juga baru melihat dengan jelas bola mata istriku yang coklat, bulu matanya yang panjang, alisnya juga tebal, hidung istriku yang kecil dan mancung, garis wajahnya yang oval, serta bibirnya yang juga mungil.Dan..." mata Kyu mengerling nakal, telunjuknya turun ke leher lalu ke dada Younghyun, ingin menarik selimut yang menutupi dada Younghyun. Tapi Younghyun dengan cepat menahan tangannya.
"Dan apa?" tantang Younghyun.
"Dan...dan sifat anehnya yang menggelikan. haha~"
-----------------------------------------
"Chagi-ah, chukhae!" seru Kyuhyun saat Younghyun sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Chukae? Untuk apa?"
"Chukhae, atas pernikahan kita yang memasuki usia 2 hari." ucap Kyuhyun bersemangat membuat Younghyun tergelak.
"Hwoooa~ kau berlebihan, oppa-ah. Apa ini berarti setiap hari kita merayakan hari pernikahan kita?"
"Ne~ kalau kau tidak keberatan. Oh y, nanti setelah pulang dari rumah sakit kita kencan y?"
"Kencan?"
"Ne~! Bukankah dulu kau bilang setelah sampai di Korea akan pergi berkencan sepuas-puasnya? Jadi mulai hari ini aku akan mengajakmu berkencan, sampai kau puas. Minggu pertama ini aku yang putuskan tempatnya, minggu selanjutnya kau. Otte?" Kyuhyun terlihat sangat antusias. Younghyun setuju-setuju saja dengan usul suaminya itu.
------------------------------------------
Kyuhyun's POV
Hari ini pernikahanku dengan Younghyun memasuki minggu ke-lima. Singkat sekali rasanya waktu yang kulalui bersamanya. Aku tidak mau melewatkan satu haripun tanpa Younghyun disampingku. Seharusnya aku bertemu dengannya lebih awal, tapi sudahlah, Tuhan telah menuliskan takdir yang seperti ini. Sesingkat apapun, aku tidak akan pernah menyesal.
"Oppa, hari ini kita tidak usah kemana-mana. Setelah dari rumah sakit kita menghabiskan waktu di rumah saja. Kau tidak boleh kelelahan." ujar Younghyun sambil merapikan blazer ku. Kami bersiap-siap akan pergi ke rumah sakit.
"Ne~ algetseumnida, omma mama." candaku. Kudengar ia tertawa mendesis.
"Chagi-ah, kesini sebentar." kutarik tangan Younghyun ke depan cermin, ia berdiri disampingku. Kulihat bayangan kami dicermin itu. "Hehe~ benar, ternyata kita memang terlihat serasi."
"Gezz~ kau ini aneh sekali, oppa. Sana siapkan mobilnya, kita pergi." Younghyun meninggalkanku merapikan baju-baju kotor kami. Younghyun tidak tau saat ini di hatiku ada berapa besar ketakutan. Takut meninggalkannya.

Waktu seharian ini kami habiskan untuk melakukan aktivitas di rumah. Aku di studioku dan Younghyun sibuk berkutat dengan desain-desain di meja arsiteknya.Lihatlah, cantik sekali yeoja-ku itu. Caranya tersenyum, cara ia menyeka keringat di dahinya saat memasak, cara ia mengaitkan rambutnya kebelakang telinganya saat ia sibuk membuat sebuah desain, dan wajah seriusnya itu, semuanya benar-benar cantik. Aku tidak pernah puas mengaguminya.
-------------------------------------------
Younghyun menyadari kalau mata Kyuhyun sedang mengawasinya dari dalam studionya sedari tadi. Wanita itu lalu menghentikan kerjanya dan beranjak menuju studio Kyuhyun. Ia mengetuk dinding kaca itu, Kyuhyun terlihat buyar dengan lamunannya, lalu laki-laki itu melemparkan senyuman khasnya ke Younghyun.
"Masuklah." ujar Kyu. Walau Younghyun tidak dapat mendengar suara Kyuhyun dari dalam ruangan kedap suara itu, tapi ia bisa mengerti ucapan Kyuhyun dari gerak bibir dan isyarat jari laki-laki itu.
"Aku sedang menyiapkan hadiah untukmu, sebuah lagu." ujar Kyuhyun yang masih duduk melipat tangan didepan dadanya. Younghyun masih berdiri di dekat pintu.
"Boleh aku mendengarkannya sekarang?"
"Masih belum selesai. Tapi aku bisa memainkan melodinya untukmu." Kyuhyun pun beranjak menuju piano klasik-nya diikuti Younghyun duduk di sampingnya. Jari-jari Kyuhyun mulai dengan lincah menekan tuts-tuts piano hingga menghasilkan rangkaian bunyi yang merdu.
--------------------------------------------
Younghyun terbangun dan menggeliat di atas tempat tidurnya saat merasakan sinar matahari mengganggu matanya, menyusup masuk melalui jendela kamarnya yang berlapis kaca. Younghyun mendongak sambil berusaha membuka matanya yang masih merasa ngantuk, mencari sosok Kyuhyun yang biasanya pasti masih tertidur. Tapi hari ini berbeda, sebelah bagian tempat tidur Younghyun kosong, tidak ada suaminya. Kemana? Younghyun lalu keluar kamar mencari tau dimana Kyuhyun, apa mungkin laki-laki itu sedang memasak? Karena hidung Younghyun mencium wangi makanan dari arah dapur. Tidak ada Kyuhyun, hanya ada hidangan untuk sarapan dan secarik note di atas meja makan.
Makan yang banyak, setelah itu mandi dan bersiap-siap. Hari ini kita kencan kan? Sebentar lagi aku menjempumu, tidak boleh terlambat atau kita putus.
p.s jangan berdandan terlalu cantik, aku tidak suka laki-laki lain memperhatikanmu

Younghyun tersenyum geli membaca note dari Kyuhyun.
"Putus? Memangnya kita sedang pacaran?"
Selesai menghabiskan sarapannya, Younghyun pun segera bersiap-siap. Ia tidak ingin terlambat pergi 'berkencan' dengan suaminya hari ini. Younghyun merasa kalau hari ini kencan mereka tidak seperti biasanya, dipikirannya, pasti Kyuhyun sedang menyiapkan kejutan untuknya.
-------------------------------------------------
Kyuhyun's POV
Hari ini white day, sebenarnya bukan momen besar bagiku, karena aku tidak pernah merayakannya. Valentine day atau sejenisnya, menurutku itu konyol. Tapi aku merasa white day yang sekarang berbeda, mulai sekarang aku akan merayakan hal kecil seperti ini bersama Younghyun. Hari ini aku berencana memberikan Younghyun coklat disaat kencan kami nanti, juga lagu dan seikat bunga. Aku baru sadar kalau selama ini aku belum pernah memberinya bunga, gezz.
Pagi-pagi sekali aku sudah mulai menyiapkan kejutan kecil untuk Younghyun, walau aku merasa sedikit kurang enak badan. Belakangan ini memang kondisiku rasanya tidak baik dan aku mudah kelelahan.
Sekarang aku sedang berada di toko bunga yang tidak jauh dari apartemenku. Aku dibantu penjaga toko sedang memilih bunga yang cocok untuk Younghyun.
"Bagaimana kalau antara tulip dan daisy?" saran penjaga toko itu padaku. Tulip, ya, aku tau bunga itu sangat indah, artinya kesetiaan.
"Tulip melambangkan kesetiaan." ungkap penjaga toko itu, seperti yang aku ketahui."Daisy juga melambangkan kesetiaan, dan keceriaan." tambahnya.
Hm~ aku tertarik pada Daisy. "Berikan aku sebuket daisy." kata ku pada penjaga toko tadi. Aku mengikuti langkah wanita penjaga toko itu ke mejanya di sudut ruangan itu. Deg! Tiba-tiba saja jantungku terasa menghentak kuat dan sekarang dadaku rasanya sesak sekali. Aku menekannya sebentar, sampai aku memastikan ini tidak akan apa-apa. Setelah membayar aku pun melangkah keluar toko, sekarang tujuanku toko coklat. Lagi-lagi dadaku terasa nyeri saat akan membuka pintu mobil. Aku masih menahan sakit ini sampai mobilku terparkir di depan toko coklat, tapi sekarang aku merasakan oksigen sulit mengalir ke paru-paruku.
-----------------------------------------
Orang-orang berkerumun didepan Chocolate Gallery, setelah sebelumnya seorang laki-laki terlihat limbung dan jatuh pingsan setelah turun dari mobilnya yang terparkir di depan toko coklat itu. Salah satu dari orang-orang itu kemudian mengangkat laki-laki tadi ke dalam mobilnya lalu melaju menuju rumah sakit terdekat.
-----------------------------------------
Younghyun tengah berdiri di depan gedung apartemennya menunggu kedatangan Kyuhyun, ia sudah tidak sabar. Sudah cukup lama Younghyun menunggu, kira-kira 20 menit. Ia melirik jam di ponselnya kemudian tersenyum setelah melihat wallpaper ponselnya yang lucu, potret Kyuhyun yang sedang tertidur. Sejurus ponselnya berdering, nama Kyuhyun tertera dilayar ponsel. Ia segera menyambut panggilan itu.
"Oppa~!" seru Younghyun. "Eodiya?" tanya-nya lagi. Younghyun terdiam sebentar.
"Ye~ aku istrinya. Ada apa dengan Kyuhyun? Dia dimana?"
Setelah menutup telpon Younghyun pun bergegas berlari mencari taksi, tujuannya sekarang rumah sakit umum Kangnam. Dalam perjalanannya Younghyun menghubungi mertuanya, meminta mereka untuk datang ke rumah sakit.
--------------------------------------------
Younghyun memasuki ruangan perawatan suaminya dengan langkah gontai, ini kedua kalinya ia melihat laki-laki itu terkapar di rumah sakit. Sebelumnya beberapa bulan yang lalu di Amerika, tapi kondisinya benar-benar berbeda. Dulu Kyuhyun hanya tertidur karena pengaruh obat, tapi sekarang ia tertidur karena koma. Selang oksigen dan alat pendeteksi detak jantung terpasang ditubuh Kyuhyun. Younghyun menangis hebat melihat keadaan suaminya sekarang, apalagi teringat ucapan dokter yang menangani Kyuhyun tadi.
"Hanya keajaiban yang bisa membuat Tn. Cho Kyuhyun bertahan lebih lama lagi. Kondisi jantung kirinya benar-benar buruk."
Younghyun duduk di sisi tempat tidur Kyuhyun, lalu menggenggam tangan Kyuhyun yang terasa dingin. Ia memperhatikan monitor yang menunjukkan aktivitas detak jantung Kyuhyun, monitor itu menunjukkan garis-garis yang sesekali bergerak naik dengan interval rendah, itu berarti jantung berdetak lemah.
"Oppa, aku sudah berdo'a agar Tuhan memberikan keajaiban, karena dokter bilang hanya itu yang bisa membuatmu bertahan lebih lama. Aku sudah bilang kau jangan terlalu lelah, tapi kau selalu bersikeras." Younghyun berbicara sambil menangis. "Aku tau saat ini akan datang, tapi aku belum siap kalau secepat ini, oppa-ah. Ini terlalu singkat. Aku mohon, jangan sekarang. Chebal..."
------------------------------------------------
Oh baby say goodbye, for a short while goodbye
The talk about goodbye, I’ll put it aside for a short while
I’ll go back to the place
When I once was
When I open that door and take one step
so that I can stand in front of you who i missed
My heart that loved you
my eyes that looked at you
I’ll wait...

---------------------------------------------------
"Oppa-ah, tolong bawa Seunghyun kemari, dia harus ganti baju." teriak Younghyun dari dalam kamarnya.
"Kkaja~! Seunghyun-ah, umma-mu sudah memanggil, kita lanjutkan mainnya nanti. Minji main sendiri dulu y? Appa kesana sebentar."
----------------------------------------------------
Younghyun's POV
Oppa, sudah berlalu dua tahun, tapi aku masih sulit melepaskanmu. Aku masih tidak terima mengapa Tuhan mengaturnya seperti ini. Tapi aku juga bersyukur kepada-Nya walau kebahagiaan kita berjalan sangat singkat. Oh y, kali ini aku datang bersama Seunghyun, juga Jungsoo oppa dan keluarga kecilnya. Mereka juga sangat merindukanmu, sama seperti aku. Oppa-ah, bulan depan ulang tahun Seunghyun yang pertama, sayang kita tidak bisa merayakannya bersama. Tapi aku yakin kau pasti ada bersama kami. Oh y, aku akan putarkan lagu ulang tahun darimu untuk Seunghyun, dia harus tau kalau appa-nya punya suara yang merdu. Ngomong-ngomong, Seunghyun sangat mirip dengan mu, tidak, tepatnya mirip kita. Bibir, mata, dan alisnya mirip kau, sedangkan wajahnya yang oval, hidung, dan pipinya mirip aku. Oppa, ingat janjimu padaku, saat kehidupan bermula kembali, kau dan aku akan bertemu lagi, dimana aku tetap Younghyun yang sekarang, dan kau bukanlah orang yang sedang sakit. Ada lagi, dan Seunghyun adalah anak kita. Yaksokhe! :) Yeonghwoni, saranghamnida.
---
Today when the sun sets and the moon rises again, it’s still the same
Oh why is my heart changing this fast
Your appearance that resembled the blue sky rains
When my body gets wet from this rain i’ll hide my running tears

Oh baby say goodbye, for a short while goodbye.
The talk about goodbye, I’ll put it aside for a short while.
When I open that door and take one step
Your breath that’s conveyed to the tip of my nose

---
END

akhirnya selesei juga :D hoho~ maap y kalo endingnya kurang bagus. Silahkan di kritik,komen,kasih saran. Jangan lupa jempolnya juga kalo suka ama ff nya ;) Saya beserta suami dan anak tercinta, mohon undur diri dari readers semua. Sampai jumpa di ff berikutnya. xD LOL *dtoyor2 readers

(FF) I wanna be with u part 1



created by fifi
ne ff yang aku bikin sendiri...
jangan lupa di komen ya chingu...
di kritik dan kasih saran...
heheh~

mian cici kyu mu aku pinjem yah...
*cici mojok noel2 tanah*

hehe~
cekidot..
kyuhyun POV
Aku deg-degan, teukkie hyung yang berada disampingku hanya senyam-senyum sendiri melihatku yang tegang seperti ini.ku melirik ke arahnya dan member yang lain. Mereka keliatan kompak sekali dengan stelan jas hitam-putih yang memang mereka khususkan untuk hari ini. Sedangkan aku memakai stelan putih-putih.
“Kau gugup?”tanya teukkie hyung kepada ku. Aku hanya mengangguk pelan. Teukki hyung tertawa melihatku.
“kau mendahului kami hyun-a” ujar siwon hyung. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan siwon hyung.
“kami mendoakan kebahagian untukmu”lanjutnya, aku senang semua hyung-hyungku mendukungku seperti ini. Aku tahu mereka sedikit iri karena aku mendahului mereka. Tapi aku tahu mereka sangat bahagia hari ini. Sebenarnya aku sudah tidak sabar menunggu datangnya hari ini. Tapi entah mengapa hari ini aku merasa deg-degan. Hari ini aku merasa sangat bahagia, dan aku yakin semua hyungku merasakan hal yang sama sepertiku. Aku melirik jam tanganku, masih setegah jam lagi. Entah mengapa aku merasakan waktu berjalan lambat hari ini.

Hyeyi POV

Perasaan ku tak karuan. Aku senang sekali. Aku memandang lagi ke cermin, aku masih tidak percaya kalau orang yang ada dicermin itu adalah diriku sendiri. Aku pangling karena aku tidak mengenali diriku sendiri setelah memakai gaun ini. Aku memakai gaun rancangan Andre Kim yang memang dipesankan untukku. Aku merasa gaun ini terlalu cantik untukku yang standar. Tapi aku harus memakainya, aku tidak mau mengecewakan orang yang telah memesankannnya untukku.
“hyeyi-ya, kau cantik sekali”ucap yuri oenni.
“kau membuatku iri.”kali ini chaeyeong eonni yang bicara. Aku hanya tersenyum menaggapi. Mereka berdua tergelak.
“eonni, bolehkah aku bertanya?”ujarku dengan nada yang tak yakin.
“kau mau tanya apa, chagiya?”yuri eonni balik bertanya ke arahku. Aku terdiam sejenak mengatur nafasku.
>“hmmm,tidakkah menurut kalian gaun ini terlalu bagus untukku?”tanya ku. Kedua eonni ku tersenyum dan melihat kearahku yang memasang wajah yang sangat polos.
“waeyo? Kau gugup?”tanya yuri eonni.
“anni~ aku hanya merasa gaun ini terlalu cantik untukku”ujarku sambil mengambil buket bunga mawar putih yang tak kalah cantik dari gaunku. Kedua eonni ku kembali tersenyum. Chaeyeong eonni memegang bahuku dan menghadapkanku ke arah cermin. Aku melihat diriku lagi. Chaeyeong eonni tetap berada dibelakangku. Ia tersenyum. Yuri eonni mendekati kami dan sekarang ia juaga bearada tepat di belakangku. Aku dapat melihat 3 malaikat cantik dicermin yang sekarang berada dihadaanku, dan salah satu nya adalah aku.
“kau lihat? Kau itu cantik sekali, chagiya. Kau pantas memakainya. Gaun ini sangat cocok untukmu, chagiya”ujar chaeyeong eonni tulus.
“kau seperti malaikat. Persis seperti apa yang di katakan namja itu. Kau adalah yeoja yang cantik. Kau memang pantas untuknya Hyeyi”yuri eonni menambahkan. Aku tersenyum, pipi ku memerah karena perkataan kedua eonni ku.
Terdengar pintu kamarku diketok oleh seseorang. Kami saling berpandangan.
“hyeyi, apa kau sudah siap?” terdengar suara seseorang yang ku kenal dari luar
“ nde, oppa! Aku sudah siap.”ujarku. chaeyeong eonni membukakan pintu agar orang itu masuk dan melihatku. Detik kemudian ia terpana melihatku.
“waeyo oppa? apa aku tidak pantas memakai ini?”tanyaku.
“anni~ kau cantik sekali Hyeyi.”ujarnya yang masih terpana.
“aish…kau menunggu apa lagi teukkie?cepat bawa dia.”ujar cheyeong eonni.
“nde, noona. Aku hanya terpana melihat malaikat cantik ini. aura malaikatku kalah oleh aura malaikatnya.”ujar teukki sambil tersenyum. Mukaku kembali memerah.
“ppali teukkie, nanti kalian terlambat.”kali ini yuri eonni mengingatkan teukki oppa agar segera membawaku.
“nde, noona”kemudian ia tersenyum dan melihat ke arahku ”kau siap?”tanyanya lagi.
“nde oppa!” ujarku mantap. Dia mengarahkan tangannya ke arahku seperti seorang lelaki mengajak berdansa kepada seorang wanita. Aku memberikan tanganku perlahan, ia tersenyum dan mengaitkan tanganku ke lengannya. Kami berjalan keluar dari ruangan itu. 

***FLASH BACK***

Kyuhyun POV
Aku sudah lelah, lelah sekali. Aku mencoba mencari tempat persembunyian disekitar sini. Sial! Tidak ada. Paparrazi itu tetap saja mengejarku. Hari ini memang hari sialku, penyamaranku terbongkar. Entah bagaimana mereka bisa mengenaliku. Aish… aku sangat sial! Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubungi teukki hyung.
Bruk…
“aaaawwww…”
Aw, sakit sekali. Aku telah bersiap untuk memarahi orang yang menabrakku. Tapi ia tampak lebih menderita dariku. Sepertinya tangannya terluka, aku ingin menolongnya, tetapi paparrazi itu semakin mendekat. Aku tidak sempat berbuat apa-apa, aku mengambil ponselku yang tadi terjatuh sewaktu bertabrakan dan kemudian berlari secepat yang aku bisa.

Hyeyi POV
Hari ini aku diputuskan pacarku. Aku tidak bisa berfikir lagi sekarang. Hatiku begitu sakit. Bayangkan saja, pacarku lebih memilih bersama selingkuhannya yang notabene sahabatku sendiri. Sakit, sakit sekali.
Aku tidak bisa menghentikan airmataku saat perjalanan ke rumah. Aku berjalan menunduk, agar orang-orang tidak menyadari kalau aku menangis. Haha. Apa aku sudah gila? Siapa aku? Aku bukan seorang artis yang selalu diperhatikan orang. Who care? Mau aku menangis darahpun orang-orang tidak akan peduli padaku.
Sepanjang perajalananku kerumah, aku kembali mengingat kenanganku bersama kang woo oppa. Aku kembali melihat foto ku bersama kangwoo oppa. Ppabo! Mengapa aku kembali mengingat itu? Aku harus membuang kenangan itu jauh-jauh.
Bruk..
“awwww”teriakku.
Sikuku berdarah, sialnya orang itu pergi meninggalkan ku tanpa sepatah katapun dan tanpa minta maaf. Aku kesal. Aku mencoba berdiri dan meraih ponselku. Sedikit lagi, tapi tiba-tiba seseorang menendang ponselku hingga terpelanting lebih jauh. Aish, kataku dalam hati. Aku berdiri dan mengambil ponselku. Aku melihat seseorang yang menendang ponselku tadi berlari seperti mengejar sesuatu. Kamera, ya aku bisa melihat kamera di tangannya. Orang itu berusaha memotret orang yang ku tabrak tadi. Apakah dia seorang wartawan? Omo. Apa dia sedang mengejar seorang artis? Omo. Apakah yang bertabrakan denganku tadi adalah seorang artis? Aigo~ kenapa aku tidak menyadarinya?
Ah, sudahlah, who care? Mau aku ditabrak seorang artis atau apalah namanya who care? Hatiku sedang tidak baik hari ini. Aku memasukkan ponsel dalam tasku dan memepercepat langkah menuju rumah. Aku ingin segera sampai dirumah dan menumpahkan semua apa yang ku rasa saat ini.

***




Kyuhyun POV

“kau dari mana saja kyu?” tanya sungmin hyung, jelas wajah cemas bercampur lega terpancar dari raut wajahnya. “kami mengkhawatirkanmu.” Aku hanya tersenyum. Sungmin hyung hanya geleng-geleng kepala melihatku.
“hyung, aku haus” kataku, sungmin hyung segera mengambil air mineral untukku sedangkan aku menghempaskan badanku ke sofa.
“memangnya kau kemana saja sampai paparazzi itu mengenalmu?”tanya sungmin hyung lagi sambil memberikan sebotol air mineral padaku dan duduk disampingku.
“aku hanya berjalan sebentar hyung, entah bagaimana ia bisa mengenaliku”ujarku yang kemudian meneguk satu botol air mineral itu, langsung tandas.
“kau harus hati-hati, akhir-akhir ini kita memang sedang diburu wartawan sejak shindong mengakui kekasihnya, mereka pasti juga akan mencari tau tentang kita!”
“ne hyung, arasso” kataku. “ah, capek sekali. Oh ya, wookie mana hyung??”
“wookie pergi mencari makanan bersama siwon.”
“eunhyuk hyung??” tanya ku lagi.
“kau kira sudah jam berapa ini? dia dan teukkie hyung pasti telah berangkat siaran.”
Ah, aku lupa kalau ini sudah malam. Aku beranjak dari sofa menuju kamar mandi. Badanku sudah lengket sekali, seperti latihan dance seharian. Lagi-lagi sungmin hyung hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.

Hyeyi POV

Kreekk..
“eomma, aku pulang!”kataku lemah.
“kau sudah pulang chagiya? Sudah makan?”tanya eomma ku dari arah dapur.
“belum” jawabku singkat sambil berjalan ke arah kamarku dengan langkah gontai.
“chagiya gwencana? Kau sakit?”tanya eommaku yang menyadari aku tidak ceria seperti biasanya.
“ne, gwenchana eomma, hanya saja aku sedikit lelah.”ujarku tak bersemangat.
“kalau begitu cepat mandi, eomma sudah memasakkan jajangmyeon kesukaanmu”eommaku bersemangat. Aku hanya tersenyum tipis ke arah eommaku. Appaku meninggal setahun yang lalu, akibat kecelakaan pesawat. Appaku seorang pilot disebuah perusahaan penerbangan terkenal di korea. Dengan biaya asuransi yang diterima dari perusahaan appa, eomma ku membuka sebuah toko florist. Dari situlah eomma dapat memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Aku membantu eommaku dengan bekerja di sebuah café. Sebenarnya eomma bukanlah eomma kandungku, dia adalah seorang pramugari yang dinikahi appaku setelah eomma kandungku meninggal. Beruntung ia sangat menyayangiku. Eommaku tidak bisa memiliki anak, mungkin karena itulah ia sangat menyayangiku, yah maybe. Kita takkan pernah tau alasannya.
Aku memutar shower agar air mengalir keseluruh tubuhku. “ah” kataku dalam hati, aku lupa kalu sikuku berdarah. Dasar sial mengapa hari ini aku sial sekali, aku berteriak dalam hati. Aku berusaha untuk tetap mandi dan memutuskan menahan rasa perih disikuku, toh ini belum sesakit perasaan ku sekarang. Air mataku jatuh begitu aku mengingat kangwoo oppa. Jujur saja, aku sangat mencintainya. Tapi kenapa ia melakukan hal ini padaku? Apa salahku? Dan mengapa ia melakukan ini dengan sahabatku sendiri? Mengapa? Aku terisak.
“hyeyi-ya. Apa kau sudah selesai? Gwenchana chagiya?” teriak eomma sambil mengetuk pintu kamar mandi. Aku yakin kali ini beliau benar-benar cemas, bisa didengar dari nada suaranya. Aku segera mematikan shower.
“ne. eomma aku sudah selesai. Nan gwenchanayo eomma.”teriakku dari dalam kamar mandi.
“eomma tunggu di meja makan chagiya.”


***


FF/NC 17 - My Only Girl part 1



created by ririst..

.........

annyeong yeorobun xDD

rist imnida, eh? ga tanya ya? haha mian :D
rist bikin ff ga kelar-kelar ih, jadi sebel sendiri, kenapa mood rist ga bagus terus buat nulis ff x(

ini yang TERBARU, yg lama banyaak, tapi ga dipost-post jg lanjutannya~ kapan ya?

yang ini 2part, besok atau ntar dipost lagi sambungannya xD

mohon dibaca, castnya Rist ma Umin oppa. Wkwkw x)), mianhae yang juga umin lovers, ga maksud bikin sakit hati.. xD

atas nama cinta, KEBERANIAN, dan harapan * teukie mode ON*
jjang!

please jangan SILENT READER ya, mood rist trgantung rcl jg xD *dasar, bnyak gaya ya? ayoo jambakin ririst*, wkwk
gumawo ..
rcl, rcl..
gumawo ..

***

"Apa yang kau inginkan sebenarnya?",Ri Rin balik menatap tajam kearah Sunny, ia sedikit mendecak kesal.

"..kau sudah menganggu pekerjaanku, sebenarnya aku tak punya waktu untuk mendengarkanmu.. ppali!", desak Ri Rin.

"Yaa, kenapa jadi sekarang kau yang memaksaku?",Sunny tersenyum tipis,"..atau kau sudah tahu apa yang kumau?",tangannya beranjak masuk kedalam hand bagnya.

"Kau tampak seperti tante-tante dengan tas norakmu itu..",Ri Rin membereskan beberapa map diatas mejanya, Sunny cemberut.

"Ini fotoku dengan Sung Min oppa, cepat kau tinggalkan dia, kami sedang saling jatuh cinta",Sunny menyodorkan foto ukuran dompet, ya.. ada Sung Min dan dia disana, Sunny tampak bergelayut manja dilengan Sung Min, sementara si namja hanya tersenyum hambar.

"Kau bilang saling jatuh cinta?",Ri Rin sedikit memiringkan kepalanya, ia membenarkan seragam kerjanya.

"Iya"

Ri Rin tersenyum penuh arti,'kau tak pintar sama sekali Sunny-aa, kau sudah salah besar menyuruhku meninggalkan oppa', meski begitu memang ada sesuatu yang menganjal dihatinya.

"Kau tidak sekelas dengan oppa", Sunny menunjuk kearah Ri Rin.

"Wae?"

"Kau yatim piatu", Ri Rin tercekat, matanya berkilau, menahan bulirnya agar tak jatuh disaat yang sama.

***

Sung Min membuka jasnya, melemparkan tubuhnya keatas sofa ruang keluarga rumahnya. "jagiya?", beberapa kali ia memanggil manja 'tunangan'nya, Park Ri Rin. Tak terdengar sahutan dari Ri Rin.

"Jagiya, kau dimana?",Sung Min, memeriksa dapur dan seluruh ruangan, hanya tersisa kamar Ri Rin, langkahnya terhenti, ia sudah berkomitmen tak akan masuk kamar Ri Rin sebelum mereka resmi menikah, sebenarnya itu adalah komitmen dari orang tua Sung Min, kedua orang tua mereka bersahabat lama. Setelah kecelakaan yang menewaskan ibunya, ditambah lagi ayahnya yang bunuh diri karena perusahaannya bangkrut membuat Ri Rin tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Hanya punya Sung Min, dan kedua orang tua Sung Min.

Sung Min mengetuk pelan pintu kamar Ri Rin,"Rin-aa? kau tidur?",karena masih tak ada sahutan Sung Min memberanikan diri membuka pintu kamar Ri Rin, menahan napasnya dan berjinjit-jinjit masuk.

"Omo",dia kaget melihat kamar Ri Rin yang penuh dengan poster wajahnya.

"Ini aku, aku, aku aku, wah aku lagi.. tak terlewat satupun, apa dia tiap hari memotretku ya?",Sung Min memandang kearah tempat tidur Ri Rin.

"Kau tidur rupanya",mendekati Ri Rin, menyibakkan rambutnya yang kusut karena tidur. "Tidur yang nyenyak bidadariku", mengecup bibirnya pelan, sedikit lama membuat Ri Rin terbangun.

"Oppa?.. k..ken..kenapa kau disini?",Ri Rin bangun dari tidurnya.

"Kenapa? apa salahnya aku masuk kamar calon istriku?",Sung Min tersenyum, duduk dipinggir tempat tidur Ri Rin.

Ri Rin menatap waspada,"Awas kau ya kalau macam-macam! Aku tak mau menikah denganmu kalau kau macam-macam",Ri Rin menoel-noel hidung Sung Min, membuat Sung Min gemas.

Hap! Sung Min menggigit telunjuk Ri Rin.
"Ah, jangan digigit! yaa, Sung Min-sshì!", Ri Rin menepuk pipi Sung Min, menekan-nekan kedua pipi Sung Min agar jarinya terlepas.

"Kau masih mau bilang tak mau menikah denganku? Kalau kau masih berkata begitu, bukan hanya jari tanganmu saja yang kugigit, kepalamu juga akan kugigit. Mau?",Sung Min melepas gigitanya, mengeluskan hidungnya dihidung Ri Rin. Ri Rin beranjak, mendapat perlakuan seperti itu membuatnya takut akan tergoda dan melanggar komitmen dari ayah Sung Min.

"Coba saja? AKU TAK MAU MENIKAH DENGAN LEE SUNG MIN. Ottoke?",Ri Rin berlari keluar kamar, jaga-jaga Sung Min mengejarnya. Benar saja, Sung Min mengejarnya.

"Apa katamu?? Tak mau menikah denganku?? Mau menikah dengan siapa lagi hah?? Kau milikku..",Sung Min memeluk pinggang Ri Rin dari belakang, "Jagiya..",bisiknya ditelinga Ri Rin.

Ri Rin memutar tubuhnya, "Apa?", ia melingkarkan tangannya dileher Sung Min.
Sung Min mengeratkan pelukannya, mendekatkan wajahnya kedalam wajah Ri Rin. Jantung Ri Rin berdetak cepat, tak apa-apakah aku menerimanya? Sung Min mencium bibir Ri Rin, Ri Rin memejamkan matanya, membalas ciuman Sung Min. Sung Min melepasnya sebentar, "Kau mau?"

"Oppaa~", Ri Rin memukul punggung Sung Min yang masih erat memeluknya.

Sung Min segera melumat bibir Ri Rin.
(author ga bikin nc ma umin, mianhae y.y)

***

"Abeoji? Bolehkah?"

"Iya. Kau menikah saja bulan depan, aku akan ke Perancis, jadi sepulangnya aku dari Perancis aku mau menimang cucu. Bisakah Rin-aa",ayah Sung Min mengunyah roti selai yang baru dihidangkan Ri Rin. "Kau bungkuskan rotimu ini beberapa, Eun Jo memintanya tadi, ibumu itu suka sekali shopping, dia hanya titip salam, dan.. minta rotimu ini untuk dibawa pulang", ayah Sung Min tampak sedikit mengusir Ri Rin kedapur.

Sung Min mengeser duduknya mendekati ayahnya, "Kau serius appa?", masih tak percaya.

Ayahnya mengangguk pelan, "Beri aku cucu yang lucu ya?"

"Beres!", Sung Min tertawa, "Mau berapapun akan kuberikan untukmu appa, tapi sebaiknya kau tanya Ri Rin, kan dia yang jadi ibunya, bukan aku". Keduanya tertawa terbahak-bahak. Disudut dapur, air mata Ri Rin mengalir mendengar tawa ayah dan anak itu. "Andai aku pantas untukmu, oppa. Tak perlu kau suruh abeoji membujukku memberi anak banyakpun aku mau memberinya untukmu, tapi..",Ri Rin mengusap air matanya, mengalihkan perhatiannya pada roti yang sedang dipanggangnya untuk calon ibu mertuanya, yang belum tentu juga bisa jadi ibu mertuanya.

"..kau yatim piatu",ucapan Sunny masih tergiang-ngiang dibenaknya. Ri Rin menghela napas panjang.

"Saranghae oppa,jeongmal saranghaeyo"